Senin, 21 November 2011

MENGEMBANGKAN BUTIR TES ACUAN PATOKAN

MENGEMBANGKAN BUTIR TES ACUAN PATOKAN

Tes acuan patokan adalah salah satu dari model pengembangan desain instruksional Dick and Carey. Penilaian acuan patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini siswa dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional .
Tes acuan patokan (penilaian) berfungsi untuk mengukur kemampuan pebelajar seperti yang diperkirakan tujuan. Perkembangan tes dibuat pada proses desain pengajaran setelah pelajaran dikembangkan. Alasan utamanya adalah bahwa item tersebut harus berkaitan dengan tujuan prestasi. Prestasi yang diperlukan dalam tujuan tersebut harus sesuai dengan prestasi yang diperlukan dalam item tes atau tugas prestasi. Sifat dari item tersebut akan diberikan kepada pebelajar dan berfungsi sebagai kunci terhadap pengembangan strategi pengajaran
Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.
Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.
PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).
Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa ketentuan sebagai berikut:
  1. Penilaian acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
  2. pengukuran PAP memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siswa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
  3. Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tentang siswa, pengukuran memerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
  4. Penilaian acuan patokan mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
  5. Penilaian acuan patokan menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
  6.  Penilaian acuan patokan dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
  7.  Penilaian acuan patokan digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.
  8. Penilaian acuan patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
  9. Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
  10. Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
  11. Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan.
           Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
1.        Mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum.
2.        Men-checking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan    pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan.
3.        Menjadi dokumen kemajuan belajar.
Dalam mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, Dick and Carrey (1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu:
  1. Entry behavior test. Tes ini diberikan kepada pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Tes ini berguna untuk mengukur keterampilan syarat atau keterampilan yang harus sudah dikuasai sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan syarat akan muncul di bawah garis entry behavior.
  2. Pre-test. Tes ini dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui apakah pebelajar sudah menguasai beberapa atau semua keterampilan yang akan diajarkan. Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest, desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar.
  3. Practice test. Tes ini diberikan selama siswa sedang dalam proses belajar. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan dan juga untuk membuat pebelajar lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran. Tes ini berisi keterampilan yang lebih sedikit dan lebih fokus pada materi per pertemuan daripada per unit. Hasil tes ini digunakan instruktur untuk memberikan feedback dan untuk memonitor pembelajaran.
  4. Post-test. Tes ini paralel dengan pre-test. Sama dengan pre-test, post-test mengukur tujuan pembelajaran. Tujuan yang terutama dari tes ini adalah agar desainer dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan baik. Jika pebelajar gagal dalam tes, desainer harus dapat mengidentifikasi dalam proses pembelajaran yang mana tidak dimengerti oleh siswa. Tes ini merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal.
Dalam Mendesain Tes, pertimbangan pertama adalah menyesuaikan bidang pelajaran dengan item atau tipe tugas penilaian. Objektif untuk intelektual skill lebih kompleks dan biasanya menggunakan model objektif, kreasi produk atau pertunjukan langsung. Penilaian untuk ranah afektif juga kompleks. Biasanya tidak ada cara langsung untuk mengukur tingkah laku seseorang. Penilaian di ranah ini biasanya dilakukan dengan observasi. Penilaian ranah psikomotor biasanya dilakukan dengan mendemonstrasikan tugas
Metode untuk menentukan level penguasaan menggunakan acuan norma. Pendekatan yang kedua, bisa digunakan cara statistik.
kemudian dalam menulis Item Tes. Ada beberapa kriteria tes yang berkualitas, yaitu:
Kriteria berpusat pada siswa (learner centered creteria). Soal tes dan tugas harus sama dengan tujuan indikator, harus cocok dengan sikap, termasuk konsep dan aksi. Sebagai contoh, siswa harus dapat menjodohkan deskripsi dari konsep dengan tabel yang telah ditentukan.
Kriteria berpusat pada kontek (context centered criteria). Soal tes dan tugas harus dapat disesuaikan dengan karaktesistik dan kebutuhan siswa. Kriteria dalam area ini adalah mempertimbangkan seperti tingkat perbendaharaan kata dan bahasa siswa, tingkat motivasi dan minat, pengalaman dan latar belakang, dan kebutuhan khusus. Diharapkan dengan adanya tingkatan tersebut siswa dapat menjawab pertanyaan dengan tepat. Pertimbangan lain yang diperhatikan adalah pengalamandan latar belakang siswa.
Kriteria berpusat pada penilaian (assessment centered criteria). Penilaian yang dilakukan oleh guru terhadap siswa dapat dijadikan informasi mengenai kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Guru harus meluangkan lebih banyak waktu untuk mengkonstruk suatu simulasi soal yang baik. Yang tujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa mulai dari yang mudah ke tingkatan yang lebih sulit.
Untuk Setting Penguasaan Kriteria. Jika tes item memerlukan sebuah format respon yang memungkinkan siswa dapat menebak jawaban dengan benar anda dapat memasukkan beberapa tes item paralel untuk tujuan yang sama jika kemungkinan menebak jawaban yang benar kecil kemungkinan, anda dapat memutuskan satu atau dua item untuk menentukan kemampuan siswa
Jenis-jenis Item, pertanyaan penting adalah jenis tes item atau penilaian tugas apa yang paling baik dalam menilai kinerja siswa? Perilaku tertentu dalam objektif memberikan point-point penting terhadap jenis item atau tugas yang dapat digunakan untuk menguji perilaku.
          Test harus terdapat petunjuk yang jelas, singkat. Permulaan tes biasanya menyebabkan kecemasan pada siswa yang akan dinilai. Oleh karena itu tes seharusnya mengurangi keraguan pada pikiran siswa mengenai apa yang akan mereka kerjakan dalam menyelesaikan test.
  1. Judul test seharusnya memberikan kesan kepada siswa mengenai content atau isi daripada kata-kata sederhana.
  2. Pernyataan singkat yang menerangkan objective atau performance yang diujikan
  3. Siswa diberitahu untuk menebak jawaban jika mereka tidak yakin dengan jawaban yang benar.
  4. Petunjuk khusus seharusnya diucapkan dengan benar.
  5. Siswa diberitahu agar menulis nama mereka atau identitas mereka.
  6. Siswa seharusnya diberitahu mengenai penggunaan perlengkapan khusus dalam menyelesaikan
          Arah dan uji test item untuk tes objektif harus diujicobakan terlebih dulu sebelum digunakan untuk evaluasi formatif. Agar tidak terjadi kesalahan pada instrumen tes , perancang harus memastikan arah tes jelas, sederhana, dan mudah diikuti.
Tes item yang tidak terjawab oleh sebagian besar pelajar harus dianalisis, direvisi, atau bahkan diganti sebelum tes diberikan lagi. Ketika membangun item tes, dan tes pada umumnya, perancang harus diingat bahwa tes mengukur kecukupan:
1.    pengujian itu sendiri.
2.    bentuk tanggapan.
3.    bahan-bahan pengajaran.
4.    lingkungan pengajaran dan situasi.
5.    pencapaian pelajar.
              Dalam mengembangkan tes acuan patokan, harus memperhatikan analisis tujuan unjuk kerja dan analisis pembelajaran. Kondisi, sikap, dan kriteria masing-masing tujuan akan membantu dalam menentukan format terbaik untuk instrumen penilaian.
              Kualitas dari soal dan instrumen tergantung dari tujuan, yang dipengaruhi oleh kualitas dari analisis pembelajaran dan pernyataan tujuan. Setelah keseluruhan dari evaluasi desain telah dicapai, maka dapat dilanjutkan dalam strategi pembelajaran selanjutnya.




Minggu, 20 November 2011

REVISI PEMBELAJARAN

Pembelajaran adalah inti dari aktivitas pendidikan, oleh sebab itu pemecahan masalah rendahnya kualitas pendidikan harus difokuskan pada kualitas pembelajaran. Komponen-komponen yang dapat memberikan kontribusi terhadap kualitas dan hasil pembelajaran yaitu: peserta didik, dosen (guru), materi, metode, sumber belajar, sarana dan prasarana, serta biaya. Kualitas pembelajaran dapat diwujudkan bilamana proses pembelajaran direncanakan dan dirancang secara matang dan seksama tahap demi tahap dan proses demi proses.
Reformasi di bidang pendidikan khususnya pembelajaran telah mulai bergulir dan banyak diperbincangkan. Namun harus diakui bahwa reformasi itu masih sebatas wacana ketimbang tindakan konkrit. Dalam dunia pendidikan telah terjadi perubahan regulasi yang mendasar yaitu dengan adanya:
1.      Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.      Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
3.      P.P. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Ada tiga alasan perlunya perubahan paradigma mengajar yaitu:
a.    bahwa peserta didik adalah bukan orang dewsa dalam bentuk kecil, tetapi mereka adalah manusia yang sedang berkembang, memiliki segenap potensi dan dalam perkembangannya memerlukan komponen eksternal.
b.    Ledakan ilmu dan teknologi mengakibatkan setiap orang tidak mungkin menguasai setiap cabang keilmuan.
c.    Penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah-laku manusia.
Langkah-langkah yang harus dilakukan:
  1. Menggambarkan pebelajar yang berpartisipasi dalam evaluasi dan menampilkan performansi mereka pada berbagai ukuran kemampuan awal.
  2. Merancang mengumpulkan bersama seluruh komentar dan saran tentang pengajaran yang dihasilkan dari umpan balik dengan masing-masing pebelajar. Juga perlu dimasukkan pendapat dari ahli masalah subjek.
  3. Merangkum keseluruhan data bersama dengan hasil posttest dengan mengembangkan sebuah table yang memuat nilai pretest, posttest, dan total waktu belajar termasuk berbagai pendapat siswa untuk masing-masing tujuan bawahan dan data-data kuesionar sikap.
  4. Tentukan dengan berdasarkan performansi belajar apakah butir tes yang diberikan gagal dijawab, jika demikian maka perubahan harus dilakukan agar konsisten dengan tujuan dan maksud pengajaran. Jika butir tes sudah memuaskan namun performansi pebelajar kurang baik maka pengajaran harus diubah. Tiga sumber saran untuk berubah: saran pebelajar, performansi pebelajar, dan reaksi anda sendiri terhadap pengajaran.
Proses revisi
  1. Proses revisi dimulai dengan meringkas data yang ditemukan
  2. Berikan semua data dari evaluasi kelompok kecil atau uji lapangan kepada perancang yang akan membuat keputusan bagaimana membuat revisi pembelajaran. Akan selalu jelas kelihatan dimana permasalahannya tetapi tidak selalu jelas kelihatan perubahan apa yang harus dibuat.
  3. Jika perbandingan dari berbagai pendekatan telah disertakan dalam evaluasi formatif, maka hasilnya seharusnya menunjukkan jenis perubahan yang harus dibuat.
  4. Strategi pembelajaran menyarankan untuk merevisi pengajaran dengan mengikuti evaluasi satu-satu juga diterapkan pada point ini seperti nama, penggunaan data, pengalaman anda dan suara prinsip belajar sebagai basis revisi.
  5. Hindari merespon terlalu capat terhadap sedikit data tunggal apakah dari performansi pebelajar pada tujuan umum, pendapat individu pebelajar atau hasil pengalaman dari ahli subjek. Data-data ini harus digabungkan dengan data lain

Revisi terhadap material pembelajaran Pada waktu menyiapkan data-data, perancang akan mulai memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesangsian secara garis besar material pembelajaran dan seberapa jauh perbaikan yang perlu dilakukan.
  1. Periksa data mengenai tingkah laku dan masukan siswa. Apakah siswa dalam penilaian formatif memiliki tingkah laku, masukan yang sudah diprediksi sebelumnya Jika demikian, apakah siswa dianggap telah berhasil baik.
  2. Tinjau kembali data pretest dan posttest. Data ini akan membantu perancang mengenali secara tepat dimana letak masalah, bahkan dapat menyarankan perubahan apa yang mesti dibuat dalam pengurutan pembelajaran untuk keterampilan-keterampilan tertentu.
  3. Pelajari skor-skor pritest untuk menentukan seberapa jauh siswa secara perorangan dan kelompok telah memperoleh keterampilan yang diajarkan.

Revisi terhadap prosedur pembelajaran Masalah-masalah prosedural dalam pembelajaran dapat diatasi dengan jalan:
  1. Mengetahui apakah semua siswa mengalami rintangan logistik yang diperlukan untuk menggunakan bahan pembelajaran yang ada.
  2. Mengetahui apakah ada pertanyaan siswa mengenai bagaimana melangkah, dari langkah pertama ke langkah berikutnya.
  3. Jangan ada penundaan dalam menginformasikan hasil tes.  

Kesimpulan Dari penjelasan mengenai revisi materi pembelajaran, dapat disimpulkan beberapa hal seperti berikut:
  1. Revisi pembelajaran adalah kegiatan memperbaiki kelemahan dari suatu rancangan pembelajaran berdasarkan data dari serangkaian evaluasi yang telah dilakukan sebelumnya.
  2. Tujuan merevisi bahan pembelajaran yaitu untuk menyempurnakan bahan pembelajaran tersebut sehingga lebih menarik, efektif bila digunakan dalam pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
  3. Revisi pembelajaran dilakukan melalui prosedur pengambilan data evaluasi formatif yaitu penilaian perseorangan, penilaian kelompok kecil, dan uji lapangan.
  4. Ada dua revisi yang perlu dipertimbangkan yaitu tevisi terhadap isi atau sustansi bahan pembelajaran dan revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.
  5. Ada 4 macam keterangan pokok yang menjadi sumber dalam melakukan revisi yaitu ciri peserta didik, masukan, tanggapan langsung terhadap pembelajaran termasuk tes sisipan, dan jawaban terhadap kuesionar.
  6. Aplikasi revisi pembelajaran dapat diterapkan berdasarkan pada data hasil belajar siswa, revisi pada tujuan pembelajaran, revisi terhadap material pembelajaran, dan revisi terhadap prosedur pembelajaran.

Jumat, 18 November 2011

MELAKUKAN PENILAIAN SUMATIF

Penilaian sumatif dilakukan setelah program berakhir. Penilaian sumatif  didefinisikan sebagai desain studi evaluasi dan pengumpulan data untuk memverifikasi efektivitas bahan pengajaran dengan target pelajar. Tujuan dari Penilaian sumatif adalah untuk mengukur pencapaian program. Fungsi penilaian sumatif dalam evaluasi program pembelajaran dimaksudkan sebagai sarana dalam mengetahui posisi atau kedudukan individu di dalam kelompoknya dan untuk menentukan digunakan atau tidak bahan pengajaran di lingkungan sekitar dan mengadopsi bahan yang berpotensi untuk kebutuhan instruksional
Beberapa keuntungan dari Penilaian sumatif meliputi:
  1. Bisa dirancang dengan tepat, menyediakan bukti untuk sebuah hubungan sebab-akibat.
  2. Menilai hubungan jangka panjang.
  3. Menyediakan data mengenai dampak program.
Penilaian hendaknya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggung jawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.
Ketentuan dan tindakan evaluasi yaitu :
1.      Memfokuskan evaluasi.
2.      Mendesain evaluasi.
3.      Mengumpulkan informasi.
4.      Menganalisis informasi.
5.      Melaporkan hasil evaluasi.
6.      Mengelola evaluasi.
Evaluasi sumatif sering dilakukan oleh suatu tim. Karena sulit mencari orang yang mempunyai begitu banyak kemampuan untuk menjadi seorang evaluator yang kompeten dan dapat diandalkan sebab harus mempunyai kombinasi berbagai ciri, antara lain: mengetahui dan mengerti teknik pengukuran, dan metode penelitian, mengerti tentang kondisi social dan hakikat objek evaluasi, mempunyai kemampuan human relation, jujur, serta bertanggung jawab.
Dalam penilaian sumatif digunakan dua pendekatan, yaitu :

     1. Pengolahan hasil penilaian sumatif berdasarkan ukuran mutlak (PAP)
Pada dasarnya pengolahan ini membandingkan hasil belajar siswa terhadap suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya. Patokan yang sudah disepakati sebelumnya biasa disebut Tingkat Penguasaan Minimum atau KKM (kriteria Ketuntasan Minimun. Jika pengolahan hasil berdasarkan ukuran/kritwria mutlak, maka yang harus dicapai ialah persentase jawaban yang benar yang dicapai oleh setiap siswa. Kemudian angka persentase tersebut diubah ke dalam skala evaluasi yang dikehendaki, umpamanya skala penilaian 1-10.

.  2. Pengolahan hasil penilaian berdasarkan norma relatif (PAN)
           PAN yaitu penilaian yang membandingkan hasil belajar siswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Pendekatan yang digunakan “apa adanya”dalam arti bahwa patokan pembanding semata-mata diambil dari kenyataan-kenyataan yang diperoleh pada saat penilaian itu berlangsung. Untuk mengolah hasil penilaian yang berdasarkan norma relatif, digunakan nilai-nilai yang standar seperti nilai 0-10 (c-score), skla nilai 0-100 (T-score), dll.
Pola Penilaian sumatif dilakukan apabila guru bermaksud untuk mengetahui tahap perkembangan terakhir dari siswanya. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa hasil belajar merupakan totalitas sejak awal hingga akhir.
Hasil penilaian biasanya digunakan untuk menentukan kenaikan kelas, menentukan angka raport, mengadakan seleksi, menentukan lulus tidaknya siswa, mengetahui status setiap siswa dibandingkan dengan siswa lainnya dalam kelompok yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Rosdakarya, Bandung: 2006
Arikunto, Suharsimi & Cepi Safrudin Abdul Jabar. (2009). Evaluasi program pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Bumi Aksara.
Ramayuli, Filsafat pendidikan Islam, Kalam Mulia,Jakarta : 2010

MENGIDENTIFIKASI PERILAKU DAN KARATERISTIK AWAL SISWA

Keberhasilan proses belajar-mengajar itu untuk sebagian dipengaruhi oleh keadaan awal yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Keadaan awal siswa yang heterogen dengan latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda akan jadi  implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan sistem instruksional, dan hal ini juga akan jadi penghambat bagi proses pencapaian tujuan instruksional bila sejak awal pengajar tidak mengidentifikasi perilaku dan karakteristik siswa yang akan diajar
Aspek-aspek analisis pada kegiatan indentifikasi perilaku dan karakterisitk awal siswa. Dalam hal ini ada empat aspek kepribadian sipelajar yang tergolong pada kegiatan indentifikasi perilaku dan karakteristik awal , yaitu :
a. Kemampuan Dasar.
b. Latar belakang pengalaman.
c. Latar belakang sosial.
d. Perbedaan individual.

          Untuk teknik identifikasi perilaku awal siswa.dengan menggunakan kuesioner, interviuw, observasi dan tes. Sabjek yang memberikan insformasi diminta untuk mengidentifikasi tingkat pengusaan siswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penilaian.
        Di samping mengidentifikasi perilaku awal mahasiswa, pengembang instruksional harus pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Tekhnik yang digunakan dalam mengidentifikasi karateristik awal siswa adalah sama dengan tekhnik yang digunkan dalam mengidentifikasi awal siswa, yaitu ; kuesioner, interviu, observasi dan tes.
          Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajari. Bila siswa mampu, hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak mampu hal-hal apa yang menjadi penghambat.
Hal-hal yang perlu diketahui tersebut adalah:
1.      Faktor-faktor akademis
2.      Faktor-faktor sosial
3.      Kondisi belajar.
         Sistem pembelajaran merupakan proses yang berlangsung secara berkesinambungan dari awal hingga berakhirnya proses pembelajaran.  Untuk itu sebelum memulai pembelajaran guru perlu terlebih dahulu menyusun desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan minat, motivasi, dan kebiasaan siswa.
          Salah satu faktor yang cukup penting adalah minat belajar peserta didik, karena minat adalah sebagai penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan. Minat merupakan kekuatan yang mendorong individu dalam memberi perhatian terhadap suatu kegiatan tertentu.
            Fungsi dari minat belajar dalam pendidikan adalah sebagai motor penggerak untuk melakukan perbuatan, sebagai penentu arah perbuatan dan melakukan apa yang harus dilakukan sehingga serasi dengan target yang hendak dituju.
           Motivasi yang terdapat pada individu akan mewujudkan suatu perilaku untuk memenuhi “keinginan” atau kebutuhannya. Motivasi pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku untuk memenuhi suatu keinginan atau kebutuhannya. Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan, yaitu dimotivasi oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Kuatnya motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya
            Hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah :
  1. Yakinkan siswa bahwa apa yang dipelajarinya bermanfaat bagi dirinya
  2. Yakinkan siswa bahwa ia akan mampu menguasai pelajaran yang dilakukan
  3. Upayakan situasi belajar yang menyenangkan
  4. Berikan Keteladanan
  5. Sertakan peserta didik dalam merancang dan menyusun target pembelajaran
  6. Gunakan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif
  7. Sampaikan tujuan pembelajaran sebelum pembelajaran dimulai
  8. Yakinkan bahwa motivasi sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
  9. Beri kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berinteraksi dan saling kerja sama
  10. Upayakan tersedianya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran yang kondusif
            Dengan memahami perilaku awal dan karakteristik peserta didik, guru dapat menetapkan teknik, metode, dan strategi pembelajaran yang tepat sesuai karakteristik, kebutuhan,  dan cara belajar siswa.  Sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa.  Dan pada akhirnya kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara optimal dan produktif.

Kamis, 17 November 2011

Hadits Sumber Hukum Islam kedua

Download disini

Al-Qur'an Sumber Hukum Islam yang Pertama

download disini

Pengembangan Strategi Intruksional / Pembelajaran


Pengembangan Sistem Instruksional (instructional systems development) berarti membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif, dan sebagainya. Menurut Ely (1979). Pengembangan sistem istruksional adalah suatu proses sedara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pengajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitasnya, dan praktis bisa dilaksanakan.
Jadi, yang dimaksud dengan model pengembangan sistem instruksional adalah se­perangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan sistem instruksional.
Sebelum menentukan model pembelajaran, ada beberapa hal yang harus di pertimbangkan:
1.      Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur (learning outcomes).
2.      Identifikasi karakteristik siswa yang akan belajar.
3.      memilih dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar bagi para siswa.
4.      Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
5.      Menentukan situasi dan kondisi, dalam mana responsi siswa akan diamati dan dipandang sebagai salah satu contoh dari tingkah laku yang diharapkan.
6.      Menentukan kriteria, seberapa prestasi siswa telah dianggap cukup.
7.      Memilih metode yang tepat untuk menilai kemampuan siswa untuk mendemonstrasikan tingkah laku.
8.      Menentukan metode untuk memonitor responsi siswa- sewaktu­
9.      Berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
10.  Mengadakan perbaikan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.
Dalam proses pembelajaran setiap guru hendaknya memiliki strategi Intruksional agar siswa dapat belajar secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Rusman, Model-Model Pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru: PT Raja Grafindo Persada 2011
Tafsir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya 2002.