Senin, 21 November 2011

MENGEMBANGKAN BUTIR TES ACUAN PATOKAN

MENGEMBANGKAN BUTIR TES ACUAN PATOKAN

Tes acuan patokan adalah salah satu dari model pengembangan desain instruksional Dick and Carey. Penilaian acuan patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini siswa dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional .
Tes acuan patokan (penilaian) berfungsi untuk mengukur kemampuan pebelajar seperti yang diperkirakan tujuan. Perkembangan tes dibuat pada proses desain pengajaran setelah pelajaran dikembangkan. Alasan utamanya adalah bahwa item tersebut harus berkaitan dengan tujuan prestasi. Prestasi yang diperlukan dalam tujuan tersebut harus sesuai dengan prestasi yang diperlukan dalam item tes atau tugas prestasi. Sifat dari item tersebut akan diberikan kepada pebelajar dan berfungsi sebagai kunci terhadap pengembangan strategi pengajaran
Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.
Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.
PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).
Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa ketentuan sebagai berikut:
  1. Penilaian acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
  2. pengukuran PAP memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siswa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
  3. Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tentang siswa, pengukuran memerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
  4. Penilaian acuan patokan mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
  5. Penilaian acuan patokan menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
  6.  Penilaian acuan patokan dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
  7.  Penilaian acuan patokan digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.
  8. Penilaian acuan patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
  9. Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
  10. Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
  11. Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan.
           Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
1.        Mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum.
2.        Men-checking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan    pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan.
3.        Menjadi dokumen kemajuan belajar.
Dalam mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, Dick and Carrey (1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu:
  1. Entry behavior test. Tes ini diberikan kepada pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Tes ini berguna untuk mengukur keterampilan syarat atau keterampilan yang harus sudah dikuasai sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan syarat akan muncul di bawah garis entry behavior.
  2. Pre-test. Tes ini dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui apakah pebelajar sudah menguasai beberapa atau semua keterampilan yang akan diajarkan. Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest, desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar.
  3. Practice test. Tes ini diberikan selama siswa sedang dalam proses belajar. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan dan juga untuk membuat pebelajar lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran. Tes ini berisi keterampilan yang lebih sedikit dan lebih fokus pada materi per pertemuan daripada per unit. Hasil tes ini digunakan instruktur untuk memberikan feedback dan untuk memonitor pembelajaran.
  4. Post-test. Tes ini paralel dengan pre-test. Sama dengan pre-test, post-test mengukur tujuan pembelajaran. Tujuan yang terutama dari tes ini adalah agar desainer dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan baik. Jika pebelajar gagal dalam tes, desainer harus dapat mengidentifikasi dalam proses pembelajaran yang mana tidak dimengerti oleh siswa. Tes ini merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal.
Dalam Mendesain Tes, pertimbangan pertama adalah menyesuaikan bidang pelajaran dengan item atau tipe tugas penilaian. Objektif untuk intelektual skill lebih kompleks dan biasanya menggunakan model objektif, kreasi produk atau pertunjukan langsung. Penilaian untuk ranah afektif juga kompleks. Biasanya tidak ada cara langsung untuk mengukur tingkah laku seseorang. Penilaian di ranah ini biasanya dilakukan dengan observasi. Penilaian ranah psikomotor biasanya dilakukan dengan mendemonstrasikan tugas
Metode untuk menentukan level penguasaan menggunakan acuan norma. Pendekatan yang kedua, bisa digunakan cara statistik.
kemudian dalam menulis Item Tes. Ada beberapa kriteria tes yang berkualitas, yaitu:
Kriteria berpusat pada siswa (learner centered creteria). Soal tes dan tugas harus sama dengan tujuan indikator, harus cocok dengan sikap, termasuk konsep dan aksi. Sebagai contoh, siswa harus dapat menjodohkan deskripsi dari konsep dengan tabel yang telah ditentukan.
Kriteria berpusat pada kontek (context centered criteria). Soal tes dan tugas harus dapat disesuaikan dengan karaktesistik dan kebutuhan siswa. Kriteria dalam area ini adalah mempertimbangkan seperti tingkat perbendaharaan kata dan bahasa siswa, tingkat motivasi dan minat, pengalaman dan latar belakang, dan kebutuhan khusus. Diharapkan dengan adanya tingkatan tersebut siswa dapat menjawab pertanyaan dengan tepat. Pertimbangan lain yang diperhatikan adalah pengalamandan latar belakang siswa.
Kriteria berpusat pada penilaian (assessment centered criteria). Penilaian yang dilakukan oleh guru terhadap siswa dapat dijadikan informasi mengenai kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Guru harus meluangkan lebih banyak waktu untuk mengkonstruk suatu simulasi soal yang baik. Yang tujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa mulai dari yang mudah ke tingkatan yang lebih sulit.
Untuk Setting Penguasaan Kriteria. Jika tes item memerlukan sebuah format respon yang memungkinkan siswa dapat menebak jawaban dengan benar anda dapat memasukkan beberapa tes item paralel untuk tujuan yang sama jika kemungkinan menebak jawaban yang benar kecil kemungkinan, anda dapat memutuskan satu atau dua item untuk menentukan kemampuan siswa
Jenis-jenis Item, pertanyaan penting adalah jenis tes item atau penilaian tugas apa yang paling baik dalam menilai kinerja siswa? Perilaku tertentu dalam objektif memberikan point-point penting terhadap jenis item atau tugas yang dapat digunakan untuk menguji perilaku.
          Test harus terdapat petunjuk yang jelas, singkat. Permulaan tes biasanya menyebabkan kecemasan pada siswa yang akan dinilai. Oleh karena itu tes seharusnya mengurangi keraguan pada pikiran siswa mengenai apa yang akan mereka kerjakan dalam menyelesaikan test.
  1. Judul test seharusnya memberikan kesan kepada siswa mengenai content atau isi daripada kata-kata sederhana.
  2. Pernyataan singkat yang menerangkan objective atau performance yang diujikan
  3. Siswa diberitahu untuk menebak jawaban jika mereka tidak yakin dengan jawaban yang benar.
  4. Petunjuk khusus seharusnya diucapkan dengan benar.
  5. Siswa diberitahu agar menulis nama mereka atau identitas mereka.
  6. Siswa seharusnya diberitahu mengenai penggunaan perlengkapan khusus dalam menyelesaikan
          Arah dan uji test item untuk tes objektif harus diujicobakan terlebih dulu sebelum digunakan untuk evaluasi formatif. Agar tidak terjadi kesalahan pada instrumen tes , perancang harus memastikan arah tes jelas, sederhana, dan mudah diikuti.
Tes item yang tidak terjawab oleh sebagian besar pelajar harus dianalisis, direvisi, atau bahkan diganti sebelum tes diberikan lagi. Ketika membangun item tes, dan tes pada umumnya, perancang harus diingat bahwa tes mengukur kecukupan:
1.    pengujian itu sendiri.
2.    bentuk tanggapan.
3.    bahan-bahan pengajaran.
4.    lingkungan pengajaran dan situasi.
5.    pencapaian pelajar.
              Dalam mengembangkan tes acuan patokan, harus memperhatikan analisis tujuan unjuk kerja dan analisis pembelajaran. Kondisi, sikap, dan kriteria masing-masing tujuan akan membantu dalam menentukan format terbaik untuk instrumen penilaian.
              Kualitas dari soal dan instrumen tergantung dari tujuan, yang dipengaruhi oleh kualitas dari analisis pembelajaran dan pernyataan tujuan. Setelah keseluruhan dari evaluasi desain telah dicapai, maka dapat dilanjutkan dalam strategi pembelajaran selanjutnya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar